Bagi seorang adsense apalagi di google tentunya tidak akan asing dengan kata atau kalimat : audience share, gross rating point (GRP), cost per rating point (CPRP), rate card, rating, built-in sponsorship, blocking time, saturation level, readership, milimeter kolom (mmk), dan sebagainya. Semuanya itu pada dasarnya adalah istilah-istilah yang muncul ketika terjadi proses untuk menentukan tarif iklan.

Nah, kalau mau terjun ke media online, mulai sekarang Anda harus paham juga istilah-istilah seperti cost per click (CPC), cost per M-impression (CPM) atau cost per action (CPA). Perbedaan mendasarnya, kalau di MSM penentuan tarif iklannya relatif tetap, di media online tarifnya tidak tetap dari waktu ke waktu alias fleksibel. Selain itu, tarifnya bisa kita tentukan sendiri sesuai keinginan kita dan sumber daya yang kita miliki.

Seakan tidak mau kalah dengan para pendahulunya seperti google dan yahoo, maka situs jejaring besar yang sedang menanjak Facebook. Di Facebook, kita bisa mengatur sendiri strategi penempatan iklan kita yang disesuaikan dengan alokasi anggaran yang kita miliki. Modelnya sendiri ada dua, yaitu yang dinamakan “Pay for Clicks” dan “Pay for Views”.

Pada model “Pay for Clicks”, kita akan diminta memasukkan anggaran harian kita dan juga nilai tawaran (bid) kita, seberapa besar kita bersedia membayar untuk setiap klik terhadap iklan kita. Jumlah yang akan ditagihkan ke kita nantinya tidak akan melebihi anggaran yang telah kita tentukan sendiri.

Facebook sendiri menyediakan fitur Daily Budget untuk menentukan alokasi anggaran kita dalam satu hari. Jumlah minimalnya adalah 1 dollar AS per hari, sedangkan maksimalnya tidak dibatasi. Lalu, fitur kedua adalah Max Bid, yang menunjukkan berapa besar nilai yang bersedia kita bayarkan untuk setiap klik ke iklan kita. Jumlah minimal Max Bid ini sebesar 1 sen dollar AS sedangkan jumlah maksimalnya tidak dibatasi.

Tentu, semakin tinggi nilai yang kita masukkan, peluang frekuensi iklan kita ditayangkan oleh Facebook akan semakin besar. Selain itu, kalau jumlah kliknya sudah melebihi batas Daily Budget tadi, Facebook secara otomatis akan menghentikan penayangan iklan kita, sehingga jumlah tagihan kita tidak akan melebihi anggaran yang telah ditetapkan.

Biar lebih mengerti, saya berikan ilustrasi sebagai berikut. Kita menentukan Daily Budget kita sebesar 100 dollar AS. Kemudian, Max Bid-nya kita tentukan sebesar 0,5 dollar AS. Jadi, kalau ada orang yang meng-klik iklan kita, kita akan membayar sebesar 0,5 dollar AS kepada Facebook sebagai penyedia media iklan kita.

Nah, begitu iklan kita sudah diklik sebanyak 200 orang pada satu hari alias sudah mencapai batas anggaran kita, Facebook secara otomatis akan menghentikan tayangan iklan kita itu. Menarik bukan? Jadi kita membayar iklan tersebut benar-benar sesuai dengan hasil yang kita dapatkan. Alokasi anggaran iklan kita akan benar-benar efisien.

Model penentuan harga iklan yang kedua di Facebook, “Pay for Views”, mirip dengan model “Pay for Clicks”. Bedanya, yang jadi dasar perhitungan bukan jumlah klik melainkan jumlah views atau impresi terhadap iklan kita. Biasanya standarnya dihitung berdasarkan setiap 1000 views.

Kalau “Pay for Clicks” disebut juga cost per click (CPC), maka“Pay for Views” dikenal juga sebagai juga sebagai cost per M-impression (CPM). “M” di sini melambangkan angka Romawi yang berarti seribu.

Model penentuan harga di atas bukan hanya merupakan monopoli Facebook. Sudah banyak situs yang memberlakukan model tersebut. Google misalnya, sudah memberlakukan kedua model penentuan harga tadi untuk program AdSense dan Adwords -nya. Google malah sudah pernah memberlakukan model cost per action atau disebut juga cost per acquisition (CPA). Kalau di eBay, model ini disebut sebagai AdContext.

Di sini pemasang iklan dikenakan tagihan berdasarkan aktivitas tertentu dari si pelanggan. Kalau ada pelanggan yang melihat iklan lalu pada akhirnya ia membeli produk tersebut, tarif iklan yang dikenakan ke si pemasang iklan akan lebih besar dibanding kalau pelanggan tadi hanya meminta informasi lebih lanjut misalnya.

Sangat canggih, bukan? Inilah yang menunjukkan bahwa di era New Wave Marketing ini, yang namanya harga atau tarif itu tidak bisa lagi tetap. Pelan-pelan akan berubah menjadi fleksibel seperti Currency.

Kisah di atas menunjukkan bahwa praktik marketing sudah harus berubah menjadi low-budget high-impact, bukan lagi high-budget high-impact apalagi high-budget low impact. Bukan masanya lagi kita membuang-buang uang tanpa mengetahui hasil riil yang kita dapatkan. New Wave Marketer harus bisa melakukan aktivitas pemasaran yang efisien sekaligus efektif.

Ibaratnya banyak jalan menuju roma, banyak jalan menuju kesukesan. Jadi tunggu apa lagi, pilih sesuai dengan kemampuan budget anda.