Tahun 2008 akan segera berahkir dan akan memasuki tahun 2009 yang tentu saja dampak dari efek krisi keuangan global akan berhenti ataukah akan terus berlanjut di tahun 2009. Berawal dari kejatuhan Wall Stret dan mengimbas ke sektor perkenomian yang lain. Dampaknya merembet kemana-mana bahkan banyak negara di dunia terkena imbasnya, tak terkecuali Indonesia. Di awal tahun 2008 kurs dollar 1 U$ sebesar 9200 rupiah akan tetapi memasuki awal minggu ke dua bulan novemper sudah menjadi 11.100 / 1 U$. Di Eropa Timur, dampak krisis global mengakibatkan resesi di sejumlah negara. Rontoknya nilai tukar akibat penarikan dana oleh investor, yang dibarengi dengan anjloknya penerimaan ekspor dan tingginya inflasi, memunculkan risiko kebangkrutan seluruh ekonomi Eropa Timur.

Sejauh ini, sudah enam negara di Eropa Timur yang meminta uluran tangan Dana Moneter Internasional, yakni Hongaria, Eslandia, Rusia, Ukraina, Turki, dan Belarus. Nasib sama dialami emerging market di Amerika Latin, dengan Argentina berpotensi terpuruk dalam krisis utang lagi. Di Asia, baru Pakistan yang mengajukan permintaan dana darurat dari IMF.

Di AS sendiri, dampak krisis mulai menyebar ke seluruh penjuru ekonomi. Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal mulai terjadi, baik di perusahaan swasta maupun pemerintah.

Seperti sudah diantisipasi, AS sekarang ini memasuki resesi terburuk sejak Depresi Besar tahun 1930. Ekonom JP Morgan Chase memperkirakan produk domestik bruto (PDB) AS hanya akan tumbuh 0,5 persen pada triwulan ketiga tahun ini dan mengalami penurunan 4 persen pada triwulan terakhir 2008 (penurunan tertajam sejak resesi 1981-1982).

Bagimana dengan Indonesia ?

Dampak krisis global sudah terasa. Industri padat karya penghasil produk konsumsi mulai meradang karena kehabisan permintaan. Order ekspor yang biasa melimpah di akhir tahun kini sepi. Buruh dan pengusaha pun berada di bibir jurang yang sama. Kerja sama yang solid kini dibutuhkan untuk menangkis dampak krisis.Kenaikan nilai tukar, suku bunga, dan ketersediaan likuiditas perbankan akan menyebabkan memburuknya sektor riil dan tertekannya sektor konsumsi terutama properti dan kredit mobil. Dibandingkan tahun 2008, pertumbuhan ekonomi 2009 diperkirakan akan mengalami perlambatan terutama disebabkan turunnya kinerja ekspo Hal itu akan mendorong tingkat NPL yang parah dan perebutan dana pihak ketiga akan semakin cepat.Hingga September 2008 perbankan masih mencatat pertumbuhan laba. Namun, seiring makin tingginya tekanan krisis sejak Oktober 2008, laba perbankan pada akhir tahun 2008 diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.Akibat ketatnya likuiditas, suku bunga deposito berjangka pada Oktober bisa naik hingga 500 basis poin dari 8 persen menjadi 13 persen. Dalam waktu bersamaan, bank tidak bisa menaikkan suku bunga kredit dengan besaran yang sama akibat ancaman NPL dan persaingan yang ketat. Akibatnya, margin bunga bersih (NIM) perbankan bakal menurun.

Sekarang rasanya bukan saat yang tepat untuk saling berdebat. Krisis global sudah mulai menggerogoti kita. Jika tak solid, pengusaha dan buruh bakal sama-sama tergilas krisis global, yang berawal dari ambruknya sektor keuangan di Amerika Serikat dan Eropa.